Rabu, 15 Mei 2013

Makalah Keperawatan Jiwa Harga Diri Rendah

HARGA DIRI RENDAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Jiwa I


Oleh:
Lidya Veronika Habeahaan (044.143.11.009)
Ramisa Solissa (044.143.11.011)
Riska Aprianti (044.143.11.012)
Siti Noor Azizzah Hasbullah (044.143.11.014)






AKADEMI KEPERAWATAN KEBONJATI BANDUNG
Jl. Kawaluyaan No. 70 Soekarno Hatta Bandung



KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia-Nyalah akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah ini, juga kepada orang tua kami yang telah memberikan dorongan baik moril maupun materil serta semangat kepada penyusun.
Adapun tujuan dari makalah ini adalah untuk memahami tentang “Harga Diri Rendah”. Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna, mengingat pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki masih sangat terbatas. Oleh karena itu, Kami juga mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun semangat, agar kedepan kami bisa membuat makalah dengan lebih baik. Dan kami berharap makalah ini akan bermanfaat bagi kita, khususnya pembaca dan pihak yang memerlukan pada umumnya. Semoga Tuhan  memberikan rahmat serta karunian-Nya kepada semua pihak yang telah turut membantu penyusunan makalah ini .








                                                                                               
Bandung, Mei  2013


Penulis



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Di zaman modern ini, globalisasi terjadi di berbagai bidang. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin pesat. Selain berbagai kemudahan, pada zaman modern ini juga memberikan banyak stresor bagi masyarakat. Stresor dapat memengaruhi keadaan jiwa seseorang.
Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif terhadap diri sendiri atau kemampuan diri. Adanya perasaan hilang percaya diri, merasa gagal karena tidak mampu mencapai keinginan sesuai ideal diri (Keliat, 1998).
Harga diri seseorang sangat dipengaruhi oleh individu itu sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat dan beberapa pengalaman in dividu. Seseorang yang memiliki koping yang baik, maka ia akan mampu mempertahankan atau meningkatkan harga dirinya.

B.       Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai gangguan yang terjadi pada perkembangan psikologis. Sehingga mahasiswa memiliki konsep belajar dan berfikir yang akan dijadikan belajar.

C.       Sistematika Penulisan 
Makalah ini tersusun dari tiga bab, yaitu:
1.    Bab I Pendahuluan
Bab ini menguraikan tentang Latar Belakang, Tujuan dan Sistematika Penulisan
2.    Bab II Isi
Bab ini menguraikan tentang konsep dasar penyakit dan konsep dasar asuhan keperawatan pada klien harga diri rendah.
3.    Bab III Penutup
Bab ini menguraikan tentang kesimpulan.


BAB II
ISI


          A.    Pengertian
Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain (Stuart & Sundeen, 1998).
Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif terhadap diri sendiri atau kemampuan diri. Adanya perasaan hilang kepercayaan diri, merasa gagal karena tidak mampu mencapai keinginan sesuai ideal diri (Keliat, 1998).
Harga diri seseorang diperoleh dari diri sendiri dan orang lain. Gangguan harga diri rendah akan terjadi jika kehilangan kasih sayang, perlakuan orang lain yang mengancam dan hubyngan interpersonal yang buruk. Tingkat harga diri berada di rentang tinggi sampai rendah. Individu yang memiliki harga diri tinggi akan menghadapi lingkungan secara aktif dan mampu beradaptasi secara efektif. Individu yang memiliki harga diri rendah melihat lingkungan secara negatif dan menganggapnya sebagai ancaman.
Konsep diri terdiri atas komponen-komponen berikut ini :
1.    Citra tubuh (Body Image)
Citra tubuh (Body Image) adalah kumpulan dari sikap individu yang disadari dan tidak disadari terhadap tubuhnya. Termasuk persepsi masa lalu dan sekarang, serta perasaan tentang ukuran, fungsi, penampilan, dan potensi. Yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan persepsi dan pengalaman yang baru (Stuart & Sundeen, 1998).
2.    Ideal Diri (Self Ideal)
Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku sesuai dengan standar, aspirasi, tujuan atau nilai personal tertentu (Stuart & Sundeen, 1998). Sering juga disebut bahwa ideal diri sama dengan cita – cita, keinginan, harapan tentang diri sendiri.


3.    Identitas Diri (Self Identifity)
Identitas adalah pengorganisasian prinsip dari kepribadian yang bertanggung jawab terhadap kesatuan, kesinambungan, konsistensi, dan keunikkan individu (Stuart & Sundeen, 1998). Pembentukan identitas dimulai pada masa bayi dan terus berlangsung sepanjang kehidupan tapi merupakan tugas utama pada masa remaja.
4.    Peran Diri (Self Role)
Serangkaian pola perilaku yang diharapkan oleh lingkungan sosial berhubungan dengan fungsi individu di berbagai kelompok sosial. Peran yang diterapkan adalah peran dimana seseorang tidak mempunyai pilihan. Peran yang diterima adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh individu (Stuart & Sundeen, 1998).
5.    Harga Diri (Self Esteem)
Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh dengan menganalisa seberapa baik perilaku seseorang sesuai dengan ideal diri. Harga diri yang tinggi adalah perasaan yang berakar dalam penerimaan diri tanpa syarat, walaupun melakukan kesalahan, kekalahan, tetap merasa sebagai seorang yang penting dan berharga (Stuart & Sundeen, 1998.

             B.     Proses Terjadinya Harga Diri Rendah
Penyebab terjadinya harga diri rendah adalah pada masa kecil sering disalahkan, jarang diberi pujian atas keberhasilannya. Saat dewasa kurang dihargai, tidak diberi kesempatan dan tidak diterima.
Ada dua faktor yang menjelaskan tentang proses terjadinya harga diri rendah, yaitu:
1.      Faktor predisposisi terjadinya harga diri rendah adalah penolakan orang tua yang tidak realistis, kegagalan berulang kali, kurang mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang lain, ideal diri yang tidak realistis.
2. Faktor presipitasi terjadinya harga diri rendah secara situasional.

            C.     Etiologi
1.    Faktor Predisposisi   
a.    Perkembangan individu yang meliputi :
1)      Adanya penolakan dari orang tua.
2)      Kurangnya pujian dan kurangnya pengakuan dari orang tua.
3)      Anak menjadi frustasi, putus asa merasa tidak berguna dan merasa rendah diri.
b.    Ideal diri
1)      Individu selalu dituntut untuk berhasil.
2)       Tidak mempunyai hak untuk gagal dan berbuat salah.
3)      Anak dapat menghakimi dirinya sendiri dan hilangnya rasa percaya diri.
2.    Faktor Presipitasi
a.    Gangguan fisik dan mental salah satu anggota keluarga sehingga keluarga merasa malu dan rendah diri.
b.    Pengalaman traumatik berulang seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau menyaksikan kejadian yang mengancam kehidupan, penganiayaan fisik, kecelakaan, bencana alam dan perampokan.

            D.    Tanda-tanda Harga Diri Rendah
1.      Mengejek dan mengeritik diri sendiri.
2.      Merasa bersalah dan khawatir, menghukum atau menolak diri sendiri.
3.      Mengalami gejala fisik, misal: tekanan darah tinggi.
4.      Menunda keputusan.
5.      Sulit bergaul dan menarik diri.
6.      Menghindari kesenangan yang dapat memberi rasa puas.
7.      Perasaan tidak mampu dan penurunan produktivitas.
8.      Banyak menunduk serta tidak mampu menatap lawan bicara.
9.      Penolakan terhadap kemampuan diri.

            E.     Peran Keluarga dalam Meningkatkan Harga Diri Klien
1.      Menjalin hubungan saling percaya.
2.      Memberi kegiatan sesuai kemampuan klien.
3.      Meningkatkan kontak dengan orang lain.
4.      Menggali kekuatan klien.
5.      Dorong klien untuk mengungkapkan pikiran dan perasannya.
6.      Bantu melihat prestasi, mengenal harapan dan kemampuan klien.
7.      Bantu klien mengungkapkan beberapa rencana menyelesaikan masalah.




          F.      Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah
1.      Pengkajian
Pengkajian meliputi beberapa faktor yaitu :
a.    Faktor Predisposisi
Faktor yang mempengaruhi harga diri, termasuk penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak realistis.
b.    Faktor Presipitasi
1)      Keadaan stress, frustasi, ketidakmampuan mencapai keinginannya, beban hidup yang terasa berat, kurangnya pengetahuan individu tentang peran, dan bertambah atau berkurangnya orang penting dalam kehidupan individu.
2)      Perilaku:
a)      Mengejek dan mengeritik diri sendiri.
b)      Merasa bersalah dan khawatir, menghukum atau menolak diri sendiri.
c)      Mengalami gejala fisik, misal: tekanan darah tinggi.
d)     Menunda keputusan.
e)      Sulit bergaul dan menarik diri.
f)       Menghindari kesenangan yang dapat memberi rasa puas.
g)      Perasaan tidak mampu dan penurunan produktivitas.
h)      Banyak menunduk serta tidak mampu menatap lawan bicara.
i)        Penolakan terhadap kemampuan diri.

2.      Diagnosa Keperawatan
a.       Harga diri rendah.
b.      Koping individu tidak efektif.
c.       Isolasi sosial.

3.      Perencanaan
a.       Diagnosa Keperawatan I
1)      Tujuan :  Klien dapat membina hubungan saling percaya.
2)      Kriteria evaluasi :
a)      Ada kontak mata.
b)      Mau berjabat tangan.
c)      Mau menyebutkan nama.
d)     Mau duduk berdampingan dengan perawat.
e)      Mau mengutarakan masalah yang dihadapi.
3)      Intervensi :
a)      Sapa ramah klien (verbal, non verbal).
b)      Perkenalan diri dengan sopan.
c)      Tanya nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien.
d)     Jelaskan tujuan pertemuan.
e)      Jujur, menepati janji.
f)       Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya.
g)      Beri klien perhatian dan perhatikan kebutuhan dasar klien.
b.      Diagnosa Keperawatan II
1)      Tujuan :  Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
2)      Intervensi :
a)      Lakukan pendekatan yang hangat, menerima klien apa adanya dan bersifat empati.
b)      Mawas diri dan cepat mengendalikan perasaan dan reaksi diri perawat sendiri, misalnya rasa marah.
c)      Sediakan waktu untuk berdiskusi dan bina hubungan yang suportif.
d)     Beri waktu untuk klien berespon pujian.
c.       Diagnosa Keperawatan III
1)        Tujuan    :  Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat, dapat mengenal perasaan, dapat mengetahui keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain.
2)        Kriteria evaluasi :
a)      Klien dapat menerima kehadiran perawat.
b)      Klien dapat menyebutkan penyebab/ alasan menarik diri.
c)      Klien dapat menyebutkan 2 dari 3 manfaat berhubungan dengan orang lain.
3)        Intervensi :
a)      Bina hubungan saling percaya.
b)      Kaji pengetahuan klien tentang menarik diri.
c)      Diskusikan bersama klien tentang prilaku menarik diri.
d)     Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan  perasaannya.
e)      Diskusikan tentang manfaat berhubungan dengan orang lain.
f)       Dorong dan bantu klien berhubungan dengan orang lain secara bertahap.
g)      Beri pijian terhadap kemampuan klien dalam menyebutkan manfaat berhubungan dengan orang lain.

4.      Evaluasi
a)      Harga diri klien meningkat.
b)      Koping klien menjadi efektif.
c)      Klien mulai melakukan hubungan sosial secara bertahap.


5.      TAK Stimulasi Persepsi : Harga Diri Rendah
Sesi 1 : Identifikasi Hal Positif pada Diri
Tujuan
a.    Klien dapat mengidentifikasi pengalaman yang tidak menyenangkan.
b.    Klien dapat mengidentifikasi hal positif pada dirinya.

Setting
a.    Terapis dank lien duduk bersama dalam lingkungan.
b.    Ruangan yang nyaman dan tenang.

Alat
a.    Spidol sebanyak  jumlah klien yang mengikuti TAK.
b.    Kertas putih HVS dua kali jumlah klien yang mengikuti TAK.
c.    Jadwal kegiatan klien.

Metode
            a.     Diskusi
            b.    Permainan


Langkah kegiatan
a.    Persiapan
1)        Memilih klien sesuai dengan indikasi, yaitu klien dengan gangguan konsep diri: harga diri rendah.
2)        Membuat kontrak dengn klien.
3)        Memepersiapkan alat dan tempat pertemuan
b.    Orientasi
1)        Salam terapeutik
a)        Salam dari terapis kepada klien.
b)        Perkenalan nama dan pangilan terapi (pakai papan nama).
c)        Menanyakan nama dan pangilan seua klien (beri papan nama).
2)        Evalusai/validasi
a)        Menanyakan perasan klien saat ini.
b)        Menanyakan masalah yang di rasakan.
3)        Kontrak
a)        Terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu bercakap-cakap tentanh hal positif tentang diri sendiri.
b)        Menjelaskan aturan main berikut:
·           Jika ada klien yang ingin meningalkan kelompok,harus meminta ijin kepada terapis.
·           Lama kegiatan 45 menit.
·           Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.
c.    Tahap kerja
1)      Terapis memperkenalkan diri: nama lengkap dan nama pangilan serta memakai papan nama.
2)      Terapis membagikan kertas dan spidol kepada klien.
3)      Terapis meminta tiap klien menulis pengalaman yang tidak menyenangkan.
4)      Terapis memberi pujian atas peran serta klien.
5)      Terapis membagikan kertas yang kedua.
6)      Terapis meminta tiap klien menulis halpositif tentang diri sendiri : kemampuan yang di miliki, kegiatan yang bisa dilakukan di rumah atau rumah sakit.
7)      Terapis meminta klien membaca hal positif yang sudah di tulis secara bergiliran sampai semua klien mendapatkan giliran.
8)      Terapis memberi pujian pada setiap peran serta klien.
d.   Tahap Terminasi
1)      Evaluasi
a)        Terapi menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
b)        Terapi memeberikan pujian atas keberhasilan kelompok.
2)      Tindak lanjut: terapi meminta klien menulis hal positif yang belum tertulis.
3)      Kontrak yang akan datang.
a)        Menyepakati TAK yang akan datang, yaitu melatih hal positif diri yang dapat di terapkan di rumah sakit dan di rumah.
b)        Menyepakati waktu dan tempat TAK berikutnya.

Evaluasi dan Dokumentasi
-          Evaluasi
Evaluasi di lakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada taha kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan sesi 1, kemampuan yng di harapkan adalah mengetahui penyebab prilaku, mengenal tanda dan gejala, perilaku kekerasan yang di lakukan dan akibat prilaku kekerasan. Formulir evaluasi sebagai berikut.
Sesi 1 TAK
Stimulasi persepsi : harga diri rendah
Kemampuan menulis pengalaman yang tidak menyenangkan san hal positif diri sendiri.

No.
Nama Klien
Menulis pengalaman yang tidak menyenangkan
Menulis hal positif diri sendiri
1.



2.



3.



4.



5.



6.



Petunjuk:
1.         Tulis nama pangilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
2.         Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan untuk mengetahui penyebab prilaku kekerasan, tanda dan gejala yang di rasakan, prilaku kekerasan yang di lakukan dan akibat perilaku kekerasan. Beri tanda ceklis jika klien mampu dan tanda silang jika klien tidak mampu.

-          Dokumentasi
Dokumentsikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses keperawatan  tiap klien. Contoh : kien mengikuti sesi 1, TAT stimulasi persepsi harga diri rendah. Klien mampu menuliskan tiga hal pengalaman yang tidak menyenangkan, mengalami kesulitan menyebutkan hal positif diri. Anjurkan klien menulis kemampuan dan hal positif dirinya dan tingkatkan reinforcement (pujian).






BAB III
PENUTUP


           A.    Kesimpulan
                       Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri yang    berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif terhadap diri sendiri atau kemampuan diri. Adanya perasaan hilang kepercayaan diri, merasa gagal karena tidak mampu mencapai keinginan sesuai ideal diri (Keliat, 1998).
Tanda dan gejala harga diri rendah diantaranya Mengejek dan mengeritik diri sendiri, Merasa bersalah dan khawatir, menghukum atau menolak diri sendiri dan Mengalami gejala fisik, misal: tekanan darah tinggi.
Keluarga berperan penting dalam meningkatkan harga diri klien dengan beberapa cara sebagai berikut:
1.      Menjalin hubungan saling percaya.
2.      Memberi kegiatan sesuai kemampuan klien.
3.      Meningkatkan kontak dengan orang lain.
4.      Menggali kekuatan klien.







DAFTAR PUSTAKA


Keliat, Budi Ana. 1992. Peran Serta Keluarga dalam Perawatan Klien Gangguan Jiwa. EGC: Jakarta.

Dadang, Hawari. 2001. Manajemen Stres, Cemas dan Depresi. Jakarta: FKUI.

Yosep, Iyus. 2007. Keperawatan Jiwa Edisi Revisi. Bandung: PT Refika Aditama.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar